Wind River (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
Wind River (2017) - Hallo sobat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Wind River (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Bagus ,Artikel Elizabeth Olsen ,Artikel Gil Birmingham ,Artikel Jeremy Renner ,Artikel Kelsey Chow ,Artikel Mystery ,Artikel Review ,Artikel Taylor Sheridan ,Artikel Thriller , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.
Judul : Wind River (2017)
link : Wind River (2017)
Anda kini membaca artikel Wind River (2017) dengan alamat link
Judul : Wind River (2017)
link : Wind River (2017)
Wind River (2017)
Terpencil , hambar , sunyi , kerap dilanda angin kencang salju ganas. Wind River , reservasi suku Indian di Wyoming memang panggung sempurna menuturkan misteri pembunuhan. Sutradara sekaligus penulis naskah Taylor Sheridan memakai karakteristik lokasi itu untuk membangun atmosfer , menjelaskan psikis para tokoh , pula menebar rintangan rintangan bagi mereka. Suatu pendekatan cermat yang selaras dengan karya-karya wahid Sheridan lain ibarat Sicario dan Hell or High Water. Meski punya sajian utama pemecahan perkara , Wind River bukan misteri konvensional dikala memberi sorotan lebih pada korban beserta sosok tercinta yang ditinggalkan.
Dibuka oleh pemandangan domba yang diintai serigala , sempat diisi dialog mengenai miliarder "memakan" jutawan , kemudian ditutup fakta ketiadaan data pasti jumlah wanita Indian yang hilang , Wind River jadi perlambang soal si besar lengan berkuasa (korporat , pembunuh) memangsa si lemah (Indian , korban pembunuhan). Alegori serupa sempat Sheridan terapkan di Sicario , bedanya kini para domba bukannya tidak berdaya. Walau berujung dimangsa pun , mereka melancarkan perlawanan terbaiknya , sebagaimana Natalie (Kelsey Chow) , gadis 18 tahun yang ditemukan tewas membeku setelah berlari sekitar 8 kilometer tanpa sepatu dan pelindung dingin. Sebelum tewas , diduga ia sempat mengalami tindak kekerasan juga perkosaan.
Agen FWS (United States Fish and Wildlife Service) , Cory Lambert (Jeremy Renner) yaitu yang pertama menemukan mayat Natalie , kala tengah bertugas memburu singa pemangsa hewan ternak warga. Kasus ini mengembalikan ingatan pahit Cory , mendorongnya membantu penyelidikan Jane Banner (Elizabeth Olsen) , agen FBI. Cory juga merupakan korban , namun serupa Indian di Wind River yang tetap berdiri tegak , ia pantang terpuruk. Sebagai pemburu dari pemburu (singa) , Cory mengerahkan seluruh keahliannya melacak keberadaan pembunuh Natalie. Dalam penampilan terbaiknya sejak The Hurt Locker , Renner tak ubahnya alam Wind River , tenang di luar , bergejolak hebat di dalam.
Begitu pula naskah Sheridan , jarang meluap-luap dengan emosi maupun kejutan tetapi punya struktur luar biasa solid. Baris dialog cendekia yang selalu memancing daya tarik menyelami masing-masing kalimatnya , kejelasan motivasi tiap huruf , hingga presisi penempatan kapan menggiring penonton pada pertanyaan , kapan menyuguhkan balasan secukupnya , tidak terlalu pelit yang bakal menghadirkan frustrasi ketimbang tensi , tidak pula terlalu banyak hingga melucuti atensi. Ibarat makanan , Sheridan paham betul bentuk serta waktu menyajikan appetizer pembangkit minat menyusuri dongeng , hidangan utama berupa konflik "mengenyangkan" , dan dessert yang menutup segalanya dengan rasa memuaskan.
Disutradarai sendiri oleh Sheridan , kekuatan naskah Wind River tersalurkan sepenuhnya. Berjalan tidak begitu cepat namun rapat , disokong aliran pembicaraan yang terkadang berfungsi memainkan dinamika emosi atau menyiratkan fakta. Selain Renner , jajaran pemain film lain pun menjalankan peran mengemban character-driven ini dengan baik. Seperti Kate Macer-nya Blunt di Sicario , Jane kolam domba kebingungan yang terhimpit kerasnya alam liar. Tapi berbeda dibanding Macer , Olsen bisa menekankan bahwa sang tokoh di antara ketidakpahaman itu memilih coba meyesuaikan diri kemudian bertambah kuat. Sementara Gil Birmingham sebagai Martin , ayah Natalie , hanya muncul dalam dua kesempatan yang maksimal dipakai memperlihatkan luapan murung dan perenungan penggugah rasa.
Selain pertunjukan misteri mencengkeram , Wind River tambah bernilai berkat ajakannya terkait menghargai kehidupan. Kasus pembunuhan yang terjadi sejatinya yaitu jalan memperlihatkan pesan itu. Mengutuk pembunuh yang menghilangkan kehidupan , menekankan perjuangan korban mempertahankan kehidupan , dan kekuatan para kerabat yang pasca ditinggalkan terus berusaha melanjutkan , merangkai kembali kehidupan. Dingin , kelam , nan menusuk di permukaan , Wind River nyatanya tetap menyimpan kehangatan dari harapan.
Demikianlah Artikel Wind River (2017)
Sekianlah artikel Wind River (2017) kali ini , mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel Wind River (2017) dengan alamat link




Comments
Post a Comment