Valentine (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Valentine (2017) - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Valentine (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Action ,Artikel Agus Pestol ,Artikel Arie Dagienkz ,Artikel Beby Hasibuan ,Artikel Estelle Linden ,Artikel Indonesian Film ,Artikel Lumayan ,Artikel Matthew Settle ,Artikel Review , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.

Judul : Valentine (2017)
link : Valentine (2017)

Baca juga


Valentine (2017)

Alasan industri di luar Hollywood termasuk Indonesia enggan menggarap film superhero adalah keterbatasan teknologi juga biaya. Benar , apabila Avengers atau Justice League yang jadi pola , kita masih tertinggal puluhan tahun. Garuda Superhero contohnya. Apakah berarti membuat film pahlawan super lebih baik dilupakan? Tentu tidak. Serial Marvel produksi Netflix mengajarkan bahwa vigilante jalanan merupakan solusi mengakali dana minim. Valentine selaku adaptasi komik terbitan Skylar Comics mengambil jalur serupa , tanpa alien , tuhan , atau monter , hanya gadis muda jago bela diri yang terpaksa membasmi kejahatan demi menyambung hidup di tengah kota korup marak kriminalitas , Batavia City.

Gadis itu bernama Srimaya (Estelle Linden) , yang sehari-hari bekerja sebagai pelayan cafe sambil mencoba peruntungan sebagai aktris , mendatangi audisi demi audisi. Berbekal pemikiran mendiang ayahnya , Sri punya kemampuan bela diri mumpuni yang menarik perhatian Bono (Matthew Settle) , seorang sutradara yang kesulitan membujuk para produser supaya memproduksi film superhero miliknya. Dibantu oleh Wawan (Arie Dagienkz) sang penata rias , Bono meminta Sri memerankan Valentine dan sungguh-sungguh merekam aksinya menumpas kriminal. Tujuannya supaya masyarakat menyukai Valentine , sehingga menarik perhatian produser. Tapi bukan problem simpel menjadi pahlawan di Batavia City , apalagi sejak Shadow menebar teror dan kerap mempermainkan polisi. 
Menetap di level jalanan ditambah manusia biasa sebagai lawan tak memaksa film karya sutradara Agus Pestol ini banyak memakai CGI yang sesekali masih digunakan (kebanyakan untuk merangkai setting) dan terbukti punya kualitas seadanya. Mayoritas aksi Valentine bertempat di lingkungan biasa , pada siang hari , serta melibatkan baku hantam tangan kosong. Agus Pestol dan tim bersedia menekan ambisi , memaksimalkan potensi pada tingkatan yang realistis untuk dicapai. Alhasil Valentine merupakan sajian berkelahi nikmat berhiaskan ide-ide kreatif (borgol sebagai versi lain batarang , perkelahian dalam dua mobil bergerak) , walau cara generik berupa close-up juga pemotongan adegan kilat tetap diandalkan Agus. Pun beberapa koreografi keren sempat tampak canggung balasan lambatnya pergerakan pemain. Toh momen-momen eksplosif yang meyakinkan tanpa perlu terlalu mengeksploitasi CGI sanggup menebus kekurangan itu. 

Tataran teknis Valentine memang masih berlubang , termasuk tata suara yang diganggu kurang mulusnya transisi pula pengaruh suara abjad Shadow yang mengaburkan artikulasi. Ketika indera pendengaran tidak terlalu dipuaskan , lain cerita soal mata. Kombinasi busana dari Utami dengan tata rias Eni Tasya menghasilkan desain abjad unik. Adegan pesta kostum sebagai pembuka kolam menyiratkan kecacatan visualisasi dunia buku komik yang segera penonton masuki. Meski Shadow dengan kostum plus topeng hitamnya bagai Crossbone versi murah , tiga wanita anak buahnya tampil mencolok , selalu berganti dandanan di tiap kemunculan berbeda. Enggan memaksakan pernak-pernik berlebih , Estelle Linden dalam balutan kostum sederhana Valentine pun enak dilihat.
Sebagaimana departemen lain , naskah ukiran pena Beby Hasibuan (The Witness , Tebus) juga mengutamakan kesederhanaan. Tanpa bumbu kerumitan tak perlu , meski belum tergolong alur yang menjerat atensi , Beby tidak ketinggalan menyelipkan subteks wacana inkapabilitas abdnegara korup , hingga usungan pesan bahwa negeri ini butuh sosok pahlawan. Tidak harus pahlawan jago tubruk dengan topeng dan kostum , cukup manusia biasa berbekal kepedulian juga kesedian berbuat baik bagi sesama. Poin itu menjaga relevansi filmnya di luar status selaku hiburan. Apalagi si tokoh utama sekedar manusia biasa yang awalnya bertarung demi kebutuhan materi alih-alih membela kebenaran , pula gentar kala mesti menatap maut.

Selipan humor secukupnya , khususnya yang melibatkan interaksi Wawan dan Sri turut menjaga dinamika. Arie Dagienkz sebagai Wawan merupakan tokoh Istimewa , seorang pria feminin yang urung jatuh menjadi banyolan murahan. Sedangkan Estelle Linden meyakinkan melakoni porsi berkelahi sembari memastikan Valentine/Sri ialah tokoh "berwarna" , tak membosankan nan simpel disukai penonton. Terdapat setumpuk kekurangan , termasuk hambarnya titik puncak , namun Valentine sudah memuaskan hasrat akan kebutuhan tontonan pahlawan super lokal , menyadarkan terdapat alternatif untuk mewujudkan film tersebut. Ada dua mid-credit scene di mana salah satunya memberi tease akan ekspansi Skylar cinematic universe



Demikianlah Artikel Valentine (2017)

Sekianlah artikel Valentine (2017) kali ini , mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda kini membaca artikel Valentine (2017) dengan alamat link

Comments

Popular posts from this blog

Download Film Satu Hari Nanti (2017) Full Movie - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Download Film Indonesia Terbaru 3 Dara 2 (2018) Full Movies - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Cars 3 (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com