Thor: Ragnarok (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
Thor: Ragnarok (2017) - Hallo sobat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Thor: Ragnarok (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil isu didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Bagus ,Artikel Benedict Cumberbatch ,Artikel Cate Blanchett ,Artikel Chris Hemsworth ,Artikel Fantasy ,Artikel Javier Aguirresarobe ,Artikel Jeff Goldblum ,Artikel Mark Mothersbaugh ,Artikel Mark Ruffalo ,Artikel Review ,Artikel Taika Waititi ,Artikel Tom Hiddleston , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.
Judul : Thor: Ragnarok (2017)
link : Thor: Ragnarok (2017)
Anda kini membaca artikel Thor: Ragnarok (2017) dengan alamat link
Judul : Thor: Ragnarok (2017)
link : Thor: Ragnarok (2017)
Thor: Ragnarok (2017)
Plot-wise , Thor: Ragnarok punya dongeng tipis. Ini bukan intrik politik layaknya The Winter Soldier , bukan drama transformasi abjad serupa Iron Man , bukan pula shakesperian soal perebutan tahta kerajaan macam Thor pertama meski hal itu memegang peranan penting dalam konflik utama. Ragnarok adalah komedi yang bersembunyi di balik spectacle seharga $180 juta. Kelompok oposisi MCU akan senang hati mencaci bersenjatakan pernyataan "tiada kesan mengancam di filmnya". Karena di Ragnarok yang sejatinya mengandung dongeng kelam , canda tawa selalu dikedepankan.
Kali ini Thor (Chris Hemsworth) mesti menghentikan Ragnarok , yakni "akhir segalanya" , serta menghadapi Hela (Cate Blanchett) , Dewi Kematian yang berusaha merebut tahta Asgard. Tentu perjalanan sang Dewa Petir tak mudah. Selain Mjolnir-nya dihancurkan oleh Hela , ia juga terdampar di Planet Sakaar yang dikuasai The Grandmaster (Jeff Goldblum) , dan terpaksa mengikuti kontes ala Gladiator melawan Hulk (Mark Ruffalo). Lagi-lagi kecerdikan bulus Loki (Tom Hiddleston) pun ikut menghalangi. Di antaranya , sutradara Taika Waititi masih sempat menghadirkan adegan Thor melihat penis Hulk hingga istilah "devil's anus" bagi suatu portal antar dimensi.
Fakta bahwa Thor: Ragnarok setia bercanda walau diisi hancurnya senjata si pahlawan , tokoh Dewi Kematian yang melakukan pembantaian , dan simpulan zaman , justru membuatnya spesial. Perlu disadari , dunia tempat kita tinggal kini tak lagi asing dengan semua itu , dan Waititi bersama Eric Pearson selaku penulis naskah seolah menyediakan penonton tempat berlindung berupa dunia fantasi di mana sederet problem tadi sanggup diselesaikan , bahkan ditertawakan. Meski sulit disangkal keputusan tersebut melucuti bobot Hela , sebatas menjadikannya villain menghibur berkat pesona Blanchett daripada sosok penebar ancaman dahsyat.
Komedinya memang pantas jadi menu utama. Alasan mengapa alumni sinema independen macam Waititi maupun James Gunn cocok menahkodai film Marvel tak lain kreativitas mereka melontarkan lelucon. Di tangan Waititi , nyaris segala situasi dan abjad punya kebodohan , tak terkecuali wanita setangguh Valkyrie (disokong penampilan gemilang Tessa Thompson) yang kegemaran mabuknya kerap menghasilkan tingkah jenaka. Sisanya adalah gelaran slapstick tepat waktu hingga anomali berupa sifat kekanakan Hulk , atau Korg (diperankan Waititi sendiri) dengan tubuh besar nan kokoh dari watu tetapi baik hati pula bersuara "lembut". Beberapa cameo pun dimanfaatkan sebaik mungkin , mulai Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) yang ilmu sihirnya merepotkan Thor dan Loki , hingga sosok kejutan pada suatu drama panggung di Asgard.
Chris Hemsworth yang selama ini bagai terkekang , terkubur daya tarik Loki di dua film pertama kini terfasilitasi potensi komikalnya. Hemsworth hasilnya bersinar di filmnya sendiri , menghadirkan Thor yang di satu waktu perkasa menghantam ratusan anak buah Surtur , tapi di kesempatan lain memancing tawa saat memohon-mohon agar rambutnya tak dipangkas. Hebatnya , Thor tidak berakhir sebagai produsen tawa saja , alasannya ialah ialah Ragnarok sukses melakukan hal penting yang gagal dicapai pendahulunya termasuk dua installment Avengers , yaitu mematenkan Thor sebagai "Dewa Petir" alih-alih "Dewa Martil". Sesuai hakikat babak pamungkas sebuah trilogi , Ragnarok menyempurnakan perjalanan protagonisnya.
Terdapat kekhawatiran Ragnarok berusaha terlampau keras menggandakan Guardians of the Galaxy. Benar warna mencolok tampil secara umum dikuasai namun penggunaannya berbeda. Dibantu sinematografi Javier Aguirresarobe , warna vibrant plus tata artistik out-of-this-world Waititi pakai demi mengolah nuansa fantasi bercampur sci-fi 80-an ala Flash Gordon di mana pemandangan naga terbang di langit jingga (dan ungu) jadi hal biasa. Waititi bersenang-senang menggarap adegan berbalut musik synth catchy garapan Mark Mothersbaugh (sebenarnya sanggup lebih ditonjolkan) juga Immigrant Song-nya Led Zeppelin yang tak ubahnya cue bagi aksi keren yang segera menghentak. Alangkah bijaknya , kita selaku penonton turut tenggelam dalam kesenangan serupa tanpa menagih keseriusan maupun kekelaman yang tidak wajib ada.
Demikianlah Artikel Thor: Ragnarok (2017)
Sekianlah artikel Thor: Ragnarok (2017) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel Thor: Ragnarok (2017) dengan alamat link




Comments
Post a Comment