The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Action ,Artikel Alison Brie ,Artikel Aubrey Plaza ,Artikel Bagus ,Artikel comedy ,Artikel Dave Franco ,Artikel Drama ,Artikel Eric Ruffin ,Artikel Horror ,Artikel Jeff Baena ,Artikel John C. Reilly ,Artikel Jung Byung-gil ,Artikel Kate Micucci ,Artikel Kim Ok-bin ,Artikel Korean Movie ,Artikel Lumayan ,Artikel Michael O'Shea ,Artikel Review , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.
Judul : The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess
link : The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess
Anda kini membaca artikel The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess dengan alamat link
Judul : The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess
link : The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess
The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess
The Little Hours , selaku film pertama adalah adaptasi The Decameron , novella dari masa 14 karya penulis asal Italia , Giovanni Boccaccio. Terdiri dari 100 dongeng pendek yang dituturkan tokoh-tokohnya selama 10 hari , sutradara sekaligus penulis naskah Jeff Baena mengangkat dua kisah pertama di hari ketiga. Selanjutnya ada The Transfiguration , drama gelap yang mengaitkan kesulitan karakternya menjalani kehidupan sosial dengan dongeng vampir ala Nosferatu , sembari memindahkan konteks dongeng vampir dari lingkup kultural kulit putih menuju kulit hitam. Terakhir adalah The Villainess yang pada Festival Film Cannes 2017 menerima empat menit standing ovation.
Film dengan Aubrey Plaza memerankan suster di biara terpencil tentu takkan berlangsung normal. Nyatanya , suster di sana memang unik , kalau bukan nakal. Fernanda (Aubrey Plaza) yang galak kerap berbohong semoga sanggup kabur di pagi hari , Ginevra (Kate Micucci) gemar bergosip , dan Alessandra (Alison Brie) berharap sanggup pergi demi memperbaiki hidup. Mengolok-olok tukang kebun , meludahi , bahkan memukulinya jadi rutinitas mereka. Baena menggambarkan para "pelayan Tuhan" sebagai insan dengan hasrat terpendam , termasuk si pendeta , Tommasso (John C. Reilly) yang doyan mabuk. Meski provokatif pula erotis , Baena mengedepankan komedi yang seluruhnya didasari improvisasi mumpuni jajaran cast , khususnya Plaza lewat deadpan khasnya yang di sini condong pada perilaku bergairah ketimbang canggung. Bangunan dunianya menarik , dengan akurasi setting abad pertengahan namun dialog plus perilaku tokohnya modern. Kegilaan berlipat begitu Massetto (Dave Franco) , pelayan yang kabur setelah berselingkuh dengan istri majikannya , memasuki sentral cerita. Seiring konflik meninggi dan kejutan merangsek , Baena keteteran menyusun tone , meninggalkan kebingungan , apakah harus tertawa , tercengang , atau terjerat oleh drama perihal represi nafsu duniawi manusia. Namun tak menghalangi The Little Hours memberi 90 menit keliaran padat nan menyenangkan. (3.5/5)
The Transfiguration (2016)
Milo (Eric Ruffin) menganggap Nosferatu yang buruk rupa , hidup terasing di kegelapan lebih realistis daripada ketampanan serta tubuh berkilau Edward Cullen. Bagi Milo , istilah "realistis" sanggup diterapkan sebab adalah vampir konvensional mencerminkan dirinya yang terasing , punya dogma diri rendah , korban bully , dan ingin menjadi karnivora puncak rantai masakan , di mana Milo berburu di malam hari , menghisap darah sekaligus merampas uang korban. Demikian film ini cerdik membangun metafora lewat naskah Michael O'Shea (juga sutradara). O'Shea memaparkan efek kesulitan sosialisasi sampaumur yang memancing krisis identitas , sehingga coping terhadap sosok idola pun digunakan mencari jati diri. Tapi bukan selebritis atau figur hero yang Milo puja , melainkan vampir. Pertemuan Milo dengan Sophie (Chloe Levine) yang juga teralienasi tanpa disadari menariknya dari lubang persembunyian. Ibarat vampir menemukan penawar atau insan yang menerima arti. Sebagai horor , The Transfiguration menyajikan beberapa pemandangan menjijikkan , walau dalam kuantitas terbatas. Tempo lambat ditambah alur tipis ketika sedang tak bermain analogi sanggup menjauhkan penonton umum , tapi sungguh observasi mendalam untuk problematika sosial kelam , termasuk tendensi bunuh diri. (3.5/5)
The Villainess (2017)
Penonton tak lagi menghendaki film berkelahi generik berisi pamer otot si hero dan peluru yang asal dimuntahkan sebanyak mungkin. Diawali dwilogi The Raid , Hollywood menjawab lewat John Wick , dan kini Korea Selatan punya hero sendiri. Langsung menggebrak lewat sekuen panjang yang bagai tanpa cut selama enam menit (empat menit sudut pandang orang pertama , dua menit orang ketiga) , The Villainess merupakan ambisi Jung Byung-gil menjauhi keklisean. Long take dan gerak kamera yang sekilas semrawut tapi terencana membungkus hampir semua adegan aksi. Alurnya mengetengahkan kehidupan Sok-hee (Kim Ok-bin) yang sejak kecil dilatih sebagai mesin pembunuh dan kini menjalankan misi untuk intelijen Korea Selatan. Guna menceritakan masa lalu kelam Sok-hee , flashback kerap digunakan , yang mana menyimpan banyak diam-diam , acap kali muncul mendadak , bahkan sempat hadir flashback dalam flashback , membuktikan ambisi Byung-gil tampil beda dan bergaya. Kurang substansif sekaligus berisiko membingungkan , sang sutradara sanggup meminimalkan kekacauan sehingga tatanan alur tetap setia dalam jalur. Sempat pula diselipkan sekilas momen manis di bawah guyuran hujan yang memiliki kegunaan mengikat hati penonton , memudahkan kita berpihak pada protagonis. Ok-bin berada di jajaran atas tokoh wanita perkasa , membantai puluhan lawan seorang diri , termasuk di kegilaan klimaks kala laju kencang bus tidak kuasa menahan aksinya. (4/5)
Demikianlah Artikel The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess
Sekianlah artikel The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel The Little Hours / The Transfiguration / The Villainess dengan alamat link




Comments
Post a Comment