The Big Sick (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

The Big Sick (2017) - Hallo sobat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul The Big Sick (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil isu didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Bagus ,Artikel comedy ,Artikel Emily V. Gordon ,Artikel Holly Hunter ,Artikel Kumail Nanjiani ,Artikel Michael Showalter ,Artikel Ray Romano ,Artikel Review ,Artikel romance ,Artikel Zoe Kazan , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. sepakat , selamat membaca.

Judul : The Big Sick (2017)
link : The Big Sick (2017)

Baca juga


The Big Sick (2017)

Di salah satu adegan The Big Sick , Emily (Zoe Kazan) menyatakan ingin mendengar lebih banyak tentang sisi personal kekasihnya , Kumail (Kumail Nanjiani memerankan dirinya sendiri). Pernyataan itu terlontar pasca Kumail menampilkan pertunjukan monolog di mana ia mengisahkan budaya serta kebiasaannya sebagai anggota keluarga Pakistan. Momen tersebut mewakili pesan utama filmnya , bahwa "Jati diri seseorang ditentukan oleh pribadinya , bukan ras , agama , atau asal negara". Terdengar klise , tapi sungguh pesan penting nan relevan , tidak saja untuk konteks kondisi sosial Amerika Serikat , pula seluruh dunia sekarang.

Ditulis naskahnya oleh pasangan suami istri , Kumail Nanjiani dan Emily V. Gordon , The Big Sick bersifat semi-autobiografi , mengambil intisari kasus mereka selama berpacaran , sebelum menikah pada 2007. Menjadi anak imigran Pakistan yang tumbuh besar di Chicago menghadirkan benturan bagi Kumail. Kedua orang tuanya yakni pemeluk Islam taat sekaligus masih memegang teguh watak istiadat Pakistan , termasuk mengatur perjodohan bagi anak-anaknya. Sebaliknya , hidup di Amerika merangsang Kumail berpikir lebih bebas dan terbuka , menolak menelan mentah-mentah aliran keluarganya. Apalagi begitu ia jatuh cinta pada Emily , seorang gadis kulit putih.
Ditulis selaku curahan personal membuat The Big Sick begitu bersahabat bagi penonton yang turut mengalami hal serupa. Karena pembuatnya memahami betul inti duduk kasus , konflik benturan budaya dan generasi , juga kepercayaan yang melibatkan ukiran dengan orang renta bisa disampaikan melalui ragam situasi familiar. Saya contohnya , pernah mirip Kumail , berpura-pura mematuhi perintah orang renta untuk solat dengan cara masuk ke kamar kemudian menanti selama lima menit. Kedekatan demikian berhasil menambah bobot filmnya , bukan semata presentasi , pula bisa mewakili. 

Sebagai citra , menolak perjodohan dan enggan menaati aliran agama berpotensi membuat Kumail tak lagi dianggap keluarga. Resiko luar biasa besar , alasannya yaitu tidak peduli serumit apa problematika makro di dunia , kasus personal dalam lingkup keluarga bakal lebih memancing gejolak perasaan. Kumail menjadikan The Big Sick media meluapkan isi hati termasuk amarah , sebagaimana dikala karakternya mengamuk dikala kesulitan memesan burger yang diinginkan (adegan ini pun memiliki benang merah terhadap tema besar terkait kekakuan pola pikir). Namun darah komedian sepertinya mengalir terlalu deras dalam diri Kumail , risikonya konflik pelik pun tetap dibalut menggelitik.
Di sini alasan The Big Sick terasa spesial. Bahkan sewaktu momen dramatis menerjang , kita masih dibuat tergelak berkat baris-baris kalimat gesekan pena Kumail dan Emily maupun sederet komedi situasi yang seolah berkata "apabila segalanya terlampau sulit , tertawakan saja". Barisan pemainnya mendukung pendekatan tersebut. Jajaran penampil utama perempuan , Zoe Kazan dan Holly Hunter (sebagai Beth , ibu Emily) mempesona lewat pembawaan dinamis nan energik. Khususnya Hunter yang melahirkan huruf ibu menarik , yang gemar duduk dengan mengangkat satu kaki , kemudian tidak segan terlibat keributan di klub komedi. Sebaliknya , para pria yang diwakili Kumail Nanjiani dan Ray Romano (sebagai Terry , ayah Emily) lebih pasif. Namun di balik kediaman itu tersimpan hati yang didasari usaha menunjukan cinta mereka meski sempat melukai perasaan pasangan.

Film ini juga mencontohkan apa yang disebut ending sempurna. Cukup sebuah momen singkat berbentuk konklusi sesuai impian , yang membawa karakternya maju ke depan sembari sejenak mengunjungi masa kemudian yang mengawali semuanya. Sutradara Michael Showalter (Hello , My Name Is Doris) paham betul substansi adegan penutup itu , menolak hiperbola mendramatisasi. Ibarat suatu lagu , Showalter enggan menggunakan orkestra mewah bernuansa megah , cukup memanfaatkan instrumen serta pilihan nada sesuai yang tepat mengenai sasaran berupa emosi penonton. 



Demikianlah Artikel The Big Sick (2017)

Sekianlah artikel The Big Sick (2017) kali ini , mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. sepakat , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda kini membaca artikel The Big Sick (2017) dengan alamat link

Comments

Popular posts from this blog

Download Film Satu Hari Nanti (2017) Full Movie - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Download Film Indonesia Terbaru 3 Dara 2 (2018) Full Movies - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Cars 3 (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com