Satu Hari Nanti (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
Satu Hari Nanti (2017) - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Satu Hari Nanti (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Adinia Wirasti ,Artikel Aghi Narottama ,Artikel Ayushita ,Artikel Bemby Gusti ,Artikel Cukup ,Artikel Deva Mahenra ,Artikel Drama ,Artikel Faozan Rizal ,Artikel Indonesian Film ,Artikel Review ,Artikel Ringgo Agus Rahman ,Artikel Salman Aristo , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.
Judul : Satu Hari Nanti (2017)
link : Satu Hari Nanti (2017)
Anda kini membaca artikel Satu Hari Nanti (2017) dengan alamat link
Judul : Satu Hari Nanti (2017)
link : Satu Hari Nanti (2017)
Satu Hari Nanti (2017)
Mengusung rating 21+ , Satu Hari Nanti memang film dewasa. Bukan alasannya ialah bertebaran sensualitas yang sesungguhnya sebatas beberapa ciuman "panas" dan lingerie Adinia Wirasti , melainkan tema beserta perspektif soal hubungan. Ditulis sekaligus disutradarai oleh Salman Aristo (Bukaan 8 , Mencari Hilal) , sudut pandang film yang mengetengahkan cerita saling tukar pasangan ini memang cenderung menyasar kalangan dewasa , di mana romantika bukan cuma program "manis-manis manja" , istilah "best friend forever" tidak eksis , sedangkan setting luar negeri bukan dipakai sebagai lahan jalan-jalan ria.
Bertempat di Swiss memfasilitasi (atau tepatnya memudahkan) empat tokoh utamanya menjalin asmara , tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Bima (Deva Mahenra) yang bergulat meniti karir musik mendapati hubungannya dengan Alya (Adinia Wirasti) yang tengah menempuh pendidikan chocolatier semakin hambar , sementara Chorina (Ayushita Nugraha) si manajer hotel harus sabar menyikapi kegemaran kekasihnya yang berprofesi sebagai tour guide , Din (Ringgo Agus Rahman) , bermain wanita. Kedua pasangan ini saling mendukung , menyediakan kawasan bersandar kala masing-masing diterpa permasalahan. Sampai semua berjalan terlalu jauh , dan persahabatan berkembang menjadi hasrat menggebu.
Satu kelebihan yang kerap Salman Aristo munculkan lewat skenario buatannya yaitu karakter solid. Dalam Satu Hari Nanti , praktis mendeteksi apa yang tiap tokoh rasakan , inginkan , atau keluhkan dari pasangannya. Serupa pendekatan filmnya , keempat protagonis bukan lagi muda-mudi naif yang selalu kagum kolam turis di negeri orang. Akhirnya , biarpun kamera Faozan Rizal sanggup menyibak indahnya alam setempat , dan Aghi Narottama bersama Bemby Gusti membuat musik bernuansa Eropa , Satu Hari Nanti tidak tampil "kampungan" kala enggan meluangkan terlampau banyak waktu berwisata.
Dewasa dan elegan. Dua kata itu menyusun gerak langkah filmnya , setidaknya itu yang ingin dituju Salman Aristo dikala menekan letupan emosi sambil membangun interaksi melalui barisan pembicaraan yang dipakai karakternya untuk menuangkan kegelisahan ketimbang bertukar bahasa puitis. Pun daripada momentum bergelora , Salman memilih memberi panggung bagi jajaran pemain sebagai pembentuk rasa , khususnya Adinia Wirasti yang kembali piawai memberi bobot untuk adegan sesederhana apapun. Tidak semua keputusan Alya simpatik , tapi Adinia sanggup mengajak penonton bertahan di sisinya.
Sayang , penyutradaraan Salman Aristo tak memiliki sensitivitas sekuat sang aktris. Keinginan memasang wajah dewasa nan elegan membuatnya lalai menghembuskan rasa. Tidak dibarengi pembentukan dinamika mumpuni ditambah dialog tanpa pokok pembicaraan yang sanggup menyulut kemauan penonton menyelami detail setiap kata , Satu Hari Nanti tersaji sedingin Swiss. Padahal jikalau diamati , tersimpan setumpuk gagasan menarik mengenai cinta , mimpi , hingga gejolak batin manusiawi , yang gagal tertuang maksimal layaknya seseorang penuh wangsit yang gundah cara menumpahkannya. Penonton sanggup menangkap setumpuk gagasan itu , tapi sulit merasa terikat , yang artinya , Satu Hari Nanti hanya bekerja di ranah kognitif , bukan afektif.
Kekurangan tersebut berakibat fatal tatkala konklusi yang bermakna dan berpotensi mengguncang emosi secara subtil kesudahannya kurang berdampak. Mengangkat tagline "Cinta itu Perjalanan" , Satu Hari Nanti justru melangkah lemah di paruh tengah , membuat destinasi yang sebenarnya spesial berujung hambar. Padahal resolusi yang dipilih untuk menutup duduk dilema kedua (atau keempat) kekerabatan sudah selaras dengan kedewasaan berbasis realita yang dituju. Apalagi saat Chorina tidak lagi membutuhkan pemberian untuk memotong cokelat kepunyaannya. Tersirat namun kuat.
Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017
Demikianlah Artikel Satu Hari Nanti (2017)
Sekianlah artikel Satu Hari Nanti (2017) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel Satu Hari Nanti (2017) dengan alamat link




Comments
Post a Comment