Only The Brave (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
Only The Brave (2017) - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Only The Brave (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Bagus ,Artikel Biography ,Artikel Claudio Miranda ,Artikel Eric Warren Singer ,Artikel Jeff Bridges ,Artikel Jennifer Connelly ,Artikel Joseph Kosinski ,Artikel Josh Brolin ,Artikel Ken Nolan ,Artikel Miles Teller ,Artikel Review ,Artikel Taylor Kitsch , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. sepakat , selamat membaca.
Judul : Only The Brave (2017)
link : Only The Brave (2017)
Anda kini membaca artikel Only The Brave (2017) dengan alamat link
Judul : Only The Brave (2017)
link : Only The Brave (2017)
Only The Brave (2017)
Pada masa di mana banyak penjahat kemanusiaan menggenggam kekuasaan mirip kini , segala bentuk heroisme , tanpa peduli oleh siapa atau sekecil apa , patut diceritakan dan dirayakan. Only the Brave , yang menandai peralihan sutradara Joseph Kosinski dari gelaran fiksi ilmiah (Tron: Legacy , Oblivion) menuju paparan kepahlawanan lebih membumi termasuk salah satunya. Mengangkat kisah faktual perihal pemadam kebakaran hutan Granite Mountain Hotshots kala berjuang menaklukkan api di Yarnell pada 2013 , film ini yaitu penghormatan menggugah yang tak lupa memanusiakan objeknya.
Dipimpin oleh Eric Marsh (Josh Brolin) , Granite Mountain Hotshots mengawali karir mereka dari trainee yang diremehkan , hingga kesudahannya berkesempatan menunjukan kapasitas dan mendapatkan status elit (Hotshots). Turut bergabung belakangan yaitu Brendan "Donut" McDonough (Miles Teller) , mantan pecandu yang berniat memperbaiki diri pasca sang kekasih mengandung anaknya. Para pria pemberani ini memang tak sendiri. Keluarga , dari kekasih , istri , anak , orang renta , setia berdiri di samping memberi dukungan. Ini bukan saja soal memadamkan api , juga perihal orang-orang terkasih.
Itu sebabnya 133 menit durasi tidak cuma diisi aksi memadamkan api yang terlihat meyakinkan berkat tata lokasi apik plus CGI tepat guna meski hanya punya bujet $38 juta juga drama intim terkait keluarga , dengan penempatan fokus untuk Donut dan Eric , yang hidup berdua bersama istrinya , Amanda (Jennifer Connelly). Khususnya korelasi Eric-Amanda , naskah karya Ken Nolan (Black Hawk Down , Transformers: The Last Knight) dan Eric Warren Singer (American Hustle) cermat membangun konflik secara natural. Progres bergerak dari harmoni sepasang suami istri menuju perbedaan pandangan pemicu perdebatan yang disusun bertahap melalui rangkaian pembicaraan.
Akting memegang kunci keberhasilan interaksi. Melihat Brolin si pemimpin tangguh di lapangan bertukar dialog dengan Connelly yang mengatakan kekuatan seorang wanita sanggup berdiri diatas kaki sendiri layaknya memasuki ruang personal yang mengikat. Demikian pula saat dua pemeran penuh kematangan , Brolin dan Jeff Bridges menghadirkan aliran perbincangan nikmat. Miles Teller dengan kelembutan non-verbal mirip dikala memeluk sang buah hati ditambah luapan emosi yang menyesakkan dada di penghujung film berhasil mengimbangi seniornya. Begitu pula Taylor Kitsch sebagai MacKenzie beberapa kali memancing tawa , menunjukan ia punya jangkauan akting lebih luas.
Solidnya departemen akting dan naskah menutupi fakta bahwa Kosinski belum cukup jago menangani kehangatan situasi dalam drama , apalagi saat terdapat selipan humor. Beberapa pengadeganan canggung hingga transisi garang yang mengakibatkan kurang lembutnya perpindahan tone. Untungnya , mencapai pertengahan lubang-lubang di atas tak lagi muncul. Narasi bergerak lancar menyatukan sensitivitas kisah kasih keluarga dan kepahlawanan sambil sesekali diselingi gelak tawa penyegar suasana. Kita dibuat mengenal betul para tokoh utama , yang mana jadi bekal menjelang klimaks.
Baik untuk penonton yang telah mengetahui konklusi tragedi nyatanya maupun yang belum , third act film ini sungguh mengobrak-abrik emosi. Selain kepedulian pada aksara , kesudahannya penyutradaraan Kosinski menemukan taji , perlahan membangun ketegangan saat misi pemadaman api di Yarnell yang awalnya dipandang simpel mulai mencuatkan satu demi satu rintangan bagi Granite Mountain Hotshots. Puncaknya yakni satu shot pasca kebakaran berlalu , yang berkat sinematografi Claudio Miranda (Life of Pi , Oblivion) , sanggup mencabik-cabik perasaan. Sebagaimana jasa Granite Mountain Hotshots yang selalu dikenang , shot tersebut takkan simpel hilang dari ingatan. Heartbreaking.
Demikianlah Artikel Only The Brave (2017)
Sekianlah artikel Only The Brave (2017) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. sepakat , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel Only The Brave (2017) dengan alamat link




Comments
Post a Comment