Nyai Ahmad Dahlan (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Nyai Ahmad Dahlan (2017) - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Nyai Ahmad Dahlan (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil warta didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Biography ,Artikel David Chalik ,Artikel Dyah Kalsitorini ,Artikel Indonesian Film ,Artikel Kurang ,Artikel Review ,Artikel Tika Bravani ,Artikel Tya Subiakto ,Artikel Zeta Alpha Maphilindo , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.

Judul : Nyai Ahmad Dahlan (2017)
link : Nyai Ahmad Dahlan (2017)

Baca juga


Nyai Ahmad Dahlan (2017)

Entah sudah berapa kali saya menuliskan wacana terlampau sibuknya film religi negeri ini berceramah hingga lupa akan esensinya sebagai film itu sendiri yang perlu memperhatikan tata penceritaan , naskah , akting , pun aspek sinematik lain. Walau banyak suguhan religi yang jauh lebih menggurui dalam tuturan pesannya , Nyai Ahmad Dahlan termasuk produk langka , di mana keseluruhan alur bagai kompilasi pesan agama yang disatukan. Naskah Dyah Kalsitorini (Surga Menanti) secara literal menjadikan tiap momen sebagai ceramah agama , seolah lupa sedang mengisahkan hidup seseorang. Sosok penting bernama besar , namun tetap insan biasa dengan ragam persoalan. 

Sejak momen pertama , Nyai Ahmad Dahlan langsung melempar gagasan mengenai hak semua orang , tak terkecuali perempuan dan belum cukup umur memperoleh pendidikan umum serta Islam. Digambarkan pula , kesadaran atas problematika itu telah tumbuh dalam diri Walidah (Tika Bravani) sejak kecil. Menuruti undangan kedua orang tuanya , ia menikahi KH Ahmad Dahlan (David Khalik) yang dikala itu sudah terpandang sebagai pemuka agama. Nyai Walidah pun mulai dipanggil Nyai Ahmad Dahlan , perempuan yang getol memperjuangkan hak perempuan berguru mengaji , hingga mendirikan 'Aisyiyah selaku organisasi perempuan pendamping Muhammadiyah.
Jangan dulu bicara wacana penceritaan , lantaran sedari awal ada poin yang tidak kalah mencuri perhatian , yakni tata suara. Musik garapan Tya Subiakto berwujud orkestra megah yang gemar menggelegar kemudian mencapai klimaks beberapa menit sekali. Sedikit saja emosi aksara bergejolak atau tensi adegan meningkat , musik seketika memuncak. Tapi perkara utama bukan pada musik. Toh jikalau didengar terpisah , karya Tya enak didengar. Persoalannya di sound mixing. Tanpa sensitivitas , volume musik membesar bersamaan dengan meningkatnya tensi pembicaraan. Anda pernah kesulitan mendengar bunyi lawan bicara di tengah berlangsungnya konser musik dengan penonton yang riuh bernyanyi bersama? Begitulah kualitas suaranya.

Kembali ke jalannya cerita. Ketimbang memanusiakan Nyai Ahmad Dahlan beserta segala kelebihan dan kekurangan , naskahnya memposisikan sang titular character layaknya jukebox. Bedanya , bukan musik yang keluar melainkan kutipan ayat Al Qur'an , metafora pesan moral , atau pembacaan kisah Rasul. Sesekali peran berpindah , giliran KH Ahmad Dahlan yang berceramah. Tetapi intinya sama: pesan tanpa jeda. Tentu ada konflik khususnya menyinggung hak perempuan , namun lagi-lagi sekedar jalan menyalurkan kata mutiara. Berujung dikorbankan justru sederet tuturan penting yang lalai dijabarkan , sebutlah ancaman kolonialisme hingga detail perselisihan tamat pedoman Ahmad Dahlan dipandang menyimpang. 
Daripada menggali lebih dalam , Nyai Ahmad Dahlan memilih menetap di rapat demi rapat , pengajian demi pengajian , sambil sesekali memberi eksposisi ala kadarnya seputar ragam ukiran tadi maupun bencana penting melalui sebaris teks pendek atau ucapan verbal sambil lalu. Nyaris nihil momentum menarik ditampilkan. Malah mendekati penghujung , demi mengatakan Nyai Ahmad Dahlan tetap ingat peran sebagai istri meski disibukkan tetek bengek organisasi , fokus berubah menyoroti kesehariannya merawat sang suami hingga selesai hidup tiba. Bisa saja tercipta drama emosional andai mengalir rapi , bukan potongan-potongan adegan yang ditempel paksa lewat penyuntingan lompat-lompat nan kasar. Paling mendekati keberhasilan menggetarkan rasa justru dikala seorang perempuan nembang (bernyanyi). Pun lantaran kehebatan si aktris , bukan didorong pengadeganan solid.

Muncul pertolongan di beberapa aspek. Sinematografi Zeta Alpha Maphilindo bersama pewarnaan yang diemban tim Super 8mm Studio (Ziarah , Another Trip to the Moon) menghasilkan perpaduan warna serta pencahayaan yang enak dipandang. Begitu pula akting dua aktor utama. Tika Bravani menghidupkan keteguhan di balik tutur lembut Nyai Ahmad Dahlan walau performanya terganjal kala tokohnya memasuki usia lanjut tamat riasan buruk ditambah gerak , gaya bicara , juga verbal dibuat-buat demi menyiratkan penuaan. David Chalik cukup meyakinkan bermain emosi meski bakal agak sulit membedakan Ahmad Dahlan versinya dengan aksara kiai di kebanyakan film lokal berlatar masa lalu. Film ini sedikit terselamatkan. Dari biografi kacau tanpa peduli asas storytelling , jadi biografi amat membosankan yang setidaknya digarap sungguh-sungguh. 



Demikianlah Artikel Nyai Ahmad Dahlan (2017)

Sekianlah artikel Nyai Ahmad Dahlan (2017) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda kini membaca artikel Nyai Ahmad Dahlan (2017) dengan alamat link

Comments

Popular posts from this blog

Download Film Satu Hari Nanti (2017) Full Movie - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Download Film Indonesia Terbaru 3 Dara 2 (2018) Full Movies - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Cars 3 (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com