Nyai (2016) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
Nyai (2016) - Hallo sobat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Nyai (2016) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Annisa Hertami ,Artikel Bagus ,Artikel Cahwati Sugiarto ,Artikel Darma Kedung Romansa ,Artikel Drama ,Artikel Garin Nugroho ,Artikel Gunawan Maryanto ,Artikel Indonesian Film ,Artikel Nur Hidayat ,Artikel Review ,Artikel Rudi Corens , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.
Judul : Nyai (2016)
link : Nyai (2016)
Anda kini membaca artikel Nyai (2016) dengan alamat link
Judul : Nyai (2016)
link : Nyai (2016)
Nyai (2016)
Teater , ketoprak , wayang orang , komedi stamboel. Jenis-jenis pertunjukan panggung tersebut merupakan asal sinema tanah air. Gaya bertutur , para pelakon , hingga aspek teknis ibarat tata rias serta pencahayaan , yang pernah disinggung kritikus JB Kristanto mengusung semangat "asal terang dan jelas" , bermula dari tradisi kesenian di atas. Melalui Nyai , Garin Nugroho mengunjungi babak historis itu , mengawinkan film dengan kesenian panggung yang telah konsisten ia lakukan sejak awal karir. Bedanya , Nyai membawanya ke tingkat lebih tinggi , merangkum 90 menit narasi dalam satu take.
Mengambil masa 1927 tatkala Loetoeng Kasaroeng , film produksi Indonesia pertama , dilahirkan. Alkisah , hiduplah Nyai (Annisa Hertami) , istri pria Belanda bernama Willem van Erk (Rudi Corens). Menjadi seorang "Nyai" berarti siap mendapat balasan buruk masyarakat. Sebutan "sundal" dan "kafir" , bahkan lemparan watu hingga kotoran terpaksa dihadapi. Tapi Nyai menandakan ia bukan sekedar "wanita pribumi miskin yang dipersunting tuan kaya". Beraneka tamu , dari musisi , akuntan , jurnalis , juga pemuka agama , ia ladeni secara tegas , berwibawa , intelek.
Nyai bagai titik puncak verbal kecintaan Garin Nugroho terhadap napak tilas kesenian nusantara. Mendasari dongeng dari lima novel mengenai "Nyai" dengan setting 1920-an termasuk Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang fenomenal , Garin berilmu melukiskan kondisi dunia seni masa itu. Penonton diajak memahami bagaimana film (dahulu disebut "gambar sorot") hingga komedi stamboel mengisi kehidupan para tokoh melalui selipan referensi pada pembicaraan maupun kedatangan bermacam orang dalam rangka ulang tahun Willem. Kemunculannya natural berkat keberadaan konteks , tidak dipaksa masuk secara acak.
Metode one take-nya mungkin belum serumit Russian Ark atau Victoria , di mana kamera Nur Hidayat hanya bergerak di beberapa kesempatan saja. Tapi itulah mengapa pilihan estetika ini bukan sebatas gaya-gayaan. Kamera berfungsi menggantikan tata pencahayaan selaku alat penentu fokus pertunjukan. Bentuk default-nya ialah shot diam di tengah ibarat lampu netral yang menyoroti panggung utama. Begitu titik fokus pindah , kamera pun bergerak. Sementara pergantian antara siang dan malam tersaji mulus berkat perubahan halus intensitas lampu dibarengi bunyi-bunyian suasana misalnya bunyi jangkrik.
Nyai jadi pola kala film menguatkan presentasi teater , memfasilitasi apa yang sulit dicapai di atas panggung. Close-up memungkinkan penonton mengamati detail verbal Annisa Hertami yang bermain dalam konsistensi luar biasa , memamerkan sosok Nyai yang tak gentar berkonfrontasi , menaklukkan tiap lawan bicara melalui ketegasan tutur serta laku. Eksplorasi ruang pun terbantu , misalnya dikala sekali waktu kamera masuk menelusuri interior rumah. Tidak lupa , Garin menambahkan kesegaran khas teater berupa secuil guyonan lewat interaksi dua pembantu yang diperankan Gunawan Maryanto dan Cahwati Sugiarto.
Berasal dari perspektif pria mengakibatkan tuturan soal ketangguhan perempuan film ini kurang nyaring bersuara , sebatas mengandalkan performa solid Annisa Hertami terkait pemaparannya. Selebihnya , Nyai berhasil mengembalikan dua poin: Akar film tanah air yang bersinggungan bersahabat dengan cabang kesenian tradisional lain , serta Garin Nugroho dalam karya juga ciri terbaiknya sesudah Mooncake Story gagal total. Bersama eksperimen lain berupa Setan Jawa , film bisu diiringu live orchestra , sang sutradara senior menemukan sentuhannya lagi.
Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017
Demikianlah Artikel Nyai (2016)
Sekianlah artikel Nyai (2016) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel Nyai (2016) dengan alamat link




Comments
Post a Comment