My Generation (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

My Generation (2017) - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul My Generation (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Alexandra Kosasie ,Artikel Arya Vasco ,Artikel Bryan Warow ,Artikel Cukup ,Artikel Drama ,Artikel Indah Kalalo ,Artikel Indonesian Film ,Artikel Joko Anwar ,Artikel Karina Suwandi ,Artikel Lutesha ,Artikel Muhammad Firdaus ,Artikel Review ,Artikel Tyo Pakusadewo ,Artikel Upi , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.

Judul : My Generation (2017)
link : My Generation (2017)

Baca juga


My Generation (2017)

Pada 1965 , lewat lagu My Generation , The Who mewakili perlawanan kaum muda. Meneriakkan "People try to put us down. Just because we get around" sebagai protes dikala pemegang otoritas pun generasi terdahulu menganggap semangat Baby Boomers yang menyulut perubahan kultural yaitu kebejatan mengganggu. 52 tahun berselang , Upi merilis film terbarunya , juga berjudul My Generation. Mengusung tagline "No one can stop us" , giliran milenial bersuara. Seni cenderung mencerminkan zaman. Membandingkan dua contoh di atas , sanggup diasumsikan benturan antar-generasi merupakan lingkaran yang selalu berulang. Generasi renta merasa yang muda keblinger , sebaliknya perjaka jengah akan kekakuan perilaku tetua. Pun bukan mustahil kalau muda-mudi macam empat protagonis film ini   Zeke (Bryan Warow) , Konji (Arya Vasco) , Suki (Lutesha) , dan Orly (Alexandra Kosasie)   kelak bakal dipandang bodoh oleh anak-anaknya. Menarik disimak cara Upi menangani kompleksitas tersebut.

Zeke , Konji , Suki , dan Orly terpaksa mengubur keinginan berlibur ke Bali balasan dihukum para orang renta pasca video yang menampilkan keempatnya mengkritik sistem pendidikan sekolah serta orang renta berujung viral. Merasa terlalu keren untuk patuh dan diam di rumah , mereka memilih beraktivitas sesuka hati , entah mendatangi roller disco atau menerobos atap gedung hingga dikejar satpam. Serahkan pada Upi untuk merangkai parade letupan semangat masa muda yang simpel membuat penonton tersenyum , tenggelam dalam keasyikan. Tidak ketinggalan memeriahkan suasana adalah keramaian warna sinematografi Muhammad Firdaus serta barisan musik hip-hop dengan lirik yang mewakili kebebasan pikir pula tutur tokohnya.
Walau sama-sama debutan , empat pemeran utama nyatanya sanggup memberi cukup energi guna menggerakkan filmnya. Dinamika dua laki-laki , Bryan Warrow si biang onar dan Arya Vasco yang lebih berhati-hati , Alexandra Kosasie yang senantiasa mencengkeram atensi dikala melontarkan komentar sinis , hingga Lutesha yang sanggup mewakili sisi kelam remaja dengan depresi. Sementara di jajaran pendukung , Tyo Pakusadewo dan Karina Suwandi sebagai orang renta Zeke memberi penampilan terbaik , menghadirkan dua sisi duka kontradiktif: kediaman meresahkan dan luapan pilu menusuk. Ceramah bertubi-tubi Joko Anwar (ayah Konji) , juga eksentriknya Indah Kalalo (ibu Orly) pun tak kalah mencuri perhatian.

Tentu My Generation bukan mengenai senang-senang semata. Sejak menit awal , tanpa basa-basi kuartet protagonisnya langsung menyuarakan isi hati yang niscaya segera diamini golongan penonton masa kini. Curahan tersebut memanaskan konflik mereka dengan orang renta masing-masing. Zeke merasa keberadaannya tak diperlukan , Konji selalu diceramahi wacana norma , Suki lelah dianggap memalukan nama keluarga , sementara Orly risi mendapati sang ibu yang terlampau eksis di media sosial dan memacari laki-laki berusia jauh lebih muda. Pertanyaannya , seberapa cerdik Upi mengolah bentrokan generasi ini?
Di satu titik karakternya mengutarakan perspektif kalau perilaku protektif orang renta dikarenakan sewaktu muda dahulu berbuat hal serupa anak-anaknya. Ada kesadaran seputar siklus berulang perilaku tiap generasi. Sayangnya Upi urung menggali soal itu. Padahal sanggup muncul titik temu , solusi berupa pemahaman kedua belah pihak bahwa orang renta pernah muda dan sama liarnya , sedangkan milenial suatu hari (mungkin) akan mengalami perubahan contoh pikir seiring pendewasaan. Akhirnya My Generation berhenti di tataran "kado bagi milenial". Tidak salah , tapi berpotensi membahas ihwal generasi secara lebih luas.

Kelemahan My Generation memang bertumpuk di resolusi. Seiring konflik memanas , berkurangnya keceriaan yaitu proses natural. Memasuki paruh kedua , nuansa kelam menyeruak , namun alih-alih menguatkan bobot emosi , justru melucuti daya tarik balasan kurang cakapnya Upi menjalin dinamika dramatik. Bertambah kelam tanpa bertambah dalam. Satu-satunya momen solid yaitu dikala orang renta Suki menemukan "petunjuk" terkait kondisi mentalnya. Suatu tamparan keras , karena selama ini mereka kerap memasuki kamar Suki tapi tak sekalipun menyadari meski semua terpampang jelas. Film mencapai titik nadir begitu menyentuh final , sewaktu "konklusi ajaib" jadi pilihan. Selesainya satu perselisihan tiba-tiba turut merampungkan persoalan lain walau tak saling bersinggungan. Langkah penggampangan yang mestinya tidak dipakai untuk menutup deretan problematika rumit. 



Demikianlah Artikel My Generation (2017)

Sekianlah artikel My Generation (2017) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda kini membaca artikel My Generation (2017) dengan alamat link

Comments

Popular posts from this blog

Download Film Satu Hari Nanti (2017) Full Movie - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Download Film Indonesia Terbaru 3 Dara 2 (2018) Full Movies - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Cars 3 (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com