Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Egi Fedly ,Artikel Garin Nugroho ,Artikel Indonesian Film ,Artikel Marsha Timothy ,Artikel Mouly Surya ,Artikel Rama Adi ,Artikel Review ,Artikel Sangat Bagus ,Artikel Western ,Artikel Yoga Pratama ,Artikel Yudhi Arfani ,Artikel Yunus Pasolang ,Artikel Zeke Khaseli , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.
Judul : Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)
link : Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)
Anda kini membaca artikel Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) dengan alamat link
Judul : Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)
link : Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)
Satay western. Demikian karya teranyar Mouly Surya yang telah kemudian lalang di festival-festival internasional ini disebut. Istilah tersebut mengingatkan pada spaghetti western , salah satu sub-genre yang mencapai masa keemasan di periode 1960-an sejak Sergio Leone merengkuh puncak kesuksesan. Sebagaimana spaghetti western dengan ambiguitas moral serta kekerasan , satay western punya elemen-elemen khas , selain tentunya buatan sineas Indonesia. Faktor kultural Sumba jadi partikel penyusun pondasi , tetapi lebih spesial tatkala Mouly sanggup menerapkan unsur western ke realita modern berisi isu-isu relevan , khususnya feminisme.
Berdasarkan pandangan gres dongeng dari pengalaman faktual Garin Nugroho dikala menyaksikan pemenggalan di pasar Sumba , naskah garapan Mouly bersama Rama Adi menempatkan seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy) di tengah ancaman perampok. Sang pemimpin , Markus (Egi Fedly) , mendatangi Marlina , mengutarakan maksud merampok harta benda sekaligus memperkosanya. Begitu perampok tiba , praktik patriarki turut mendera. Marlina dirampas haknya , diminta membisu , patuh , memasak makan malam , melayani nafsu seksual para pria. Hilangkan setting perampokan , kita bakal melihat cerminan dunia faktual terkait anggapan "wanita ialah pelayan pria".
Ucapan Markus bahwa Marlina beruntung berkesempatan ditiduri delapan laki-laki walau berstatus janda terdengar menusuk , karena kalimat bernada serupa , ialah kesuksesan perempuan diukur lewat keberhasilan menerima (atau didapatkan) laki-laki , kerap berseliweran di sekitar kita. Sementara siksaan berlangsung , Mouly merangkai nuansa menghantui tatkala mayit suami Marlina terduduk di sudut ruangan. Dari kacamata patriarki , protagonis kita tak berdaya. Sendiri , tanpa pelindung berjulukan pria. Namun selaku respon bagi maskulinitas spaghetti western , Marlina enggan tinggal membisu , mengeksekusi penindasnya , bahkan memenggal salah satu kepala perampok. Inilah simpulan babak pertama , "The Robbery".
Sesuai judulnya , film ini memiliki empat babak: The Robbery , The Journey , The Confession , The Birth. Marlina memutuskan membawa kepala itu ke polisi , menembus lanskap padang gersang Sumba yang dibungkus sinematografi Yunus Pasolang , diiringi gitar plus bunyi siul musik buatan Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani yang bagai berkiblat pada karya Ennio Morricone. Bermodalkan segala rasa western itu , Marlina tampil segar , mendobrak monotonitas gaya sinema Indonesia ibarat dikala Joko Anwar menyuguhkan noir melalui Kala. Bahkan lebih unik , karena Marlina merupakan western berlatar masa kini , memungkinkan cecunguk versinya mengendarai motor trail dan truk alih-alih kuda dan keretanya (walau Marlina sendiri sempat menaiki kuda).
Penuturan gosip sosial Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak berlanjut di babak-babak berikutnya , termasuk mengkritik kinerja aparat serta respon publik yang justru kerap mencibir korban pelecehan. Malah dalam sebuah kesempatan , sempat salah satu perampok , Frans (Yoga Pratama) , dengan nada kebencian memanggil Marlina "Si Pembunuh" , seolah lupa siapa penjahat sesungguhnya. Menariknya , di antara gosip pelik juga aura suram , tawa penonton masih sempat dipancing oleh beberapa selentingan menggelitik juga sederet komedi hitam yang melibatkan khayalan liar dan petikan alat musik sebagai cue jika komedi akan segera muncul.
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak merupakan kendaraan bagi Marsha Timothy menyentuh dimensi lain aktingnya. Marsha piawai memerankan tokoh yang memendam campur aduk emosi tetapi jarang meluapkannya. Suatu bentuk olah rasa yang lantang walaupun subtil. Ekspresi wajahnya nampak terbebani tapi tindakannya tanpa keraguan. Langkahnya niscaya , pelan tapi tak gontai. Seperti filmnya sendiri , yang berkat visi besar lengan berkuasa Mouly Surya , bergerak perlahan namun punya tujuan , kemudian bermuara pada konklusi sempurna yang memaparkan filosofi "kelahiran kembali" sembari mengatakan kekuatan terbesar seorang wanita.
Demikianlah Artikel Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)
Sekianlah artikel Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) dengan alamat link




Comments
Post a Comment