Jomblo (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Jomblo (2017) - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Jomblo (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Adhitya Mulya ,Artikel Arie Kriting ,Artikel Aurelie Moeremans ,Artikel comedy ,Artikel Deva Mahenra ,Artikel Ge Pamungkas ,Artikel Hanung Bramantyo ,Artikel Indonesian Film ,Artikel Kurang ,Artikel Natasha Rizky ,Artikel Review ,Artikel Richard Kyle , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.

Judul : Jomblo (2017)
link : Jomblo (2017)

Baca juga


Jomblo (2017)

Jomblo versi 2017 punya niat mengenalkan nama besar pembiasaan novel berjudul sama buatan Adhitya Mulya pada generasi masa kini sembari tetap merangkul penggemar lama , salah satunya dengan mempertahankan Hanung Bramantyo di kursi penyutradaraan. Masalahnya , remake ini kolam lupa alasan film aslinya disukai. Jomblo versi 2006 mewakili liku hidup remaja , khususnya mahasiswa yang diisi keliaran menyenangkan , dari menghisap ganja , mencoba seks , hingga merebut pacar sahabat. Poin terakhir dipertahankan , tapi secara keseluruhan lebih "jinak" (tentu empat protagonis bukan lagi perokok berat) , hanya tertarik menertawakan kebodohan tingkah para jomblo mencari cinta.

Untuk sedikit melihat gambaran perbandingan dua versi , mari tengok lagu tema masing-masing. Versi lama memiliki BDG 19 OKT dengan petikan lirik "Segala yang kuberi , tak pernah berarti , berat terasa , habiskan darahku , menusuk tulangku , yang lelah" yaitu nomor rock seputar curahan hati. Sedangkan remake-nya ditemani Jomblo dengan hook pada pecahan "Masih betah jadi jomblo , Since Grow , Sampai kapan jadi jomblo , Since Grow" selaku hip hop nuansa modern yang lebih lugas dan playful. Intinya , didorong menyasar para milenial , Jomblo berusaha tampil (lebih) ringan yang sayangnya berujung simplifikasi kosong.
Empat tokoh utamanya masih sama , Agus (Ge Pamungkas) yang berambisi mengakhiri masa jomblo kala bertemu sahabat lamanya , Rita (Natasha Rizky) , Bimo (Arie Kriting) yang menembak semua perempuan , Doni (Richard Kyle) si playboy ganteng , dan Olip (Deva Mahenra) yang takut berkenalan dengan Asri (Aurelie Moeremans). Dari luar , kepribadian pula permasalahan tetap sama. Bedanya , walau konflik meninggi hingga mengancam jalannya persahabatan , kali ini sulit merasa terikat lantaran jarangnya momen kebersamaan. Benar mereka sempat nongkrong di kampus tetangga atau berlibur ke pantai bersama , tapi semua belum cukup besar lengan berkuasa menggambarkan ikatan pertemanan. 

Agar peduli , penonton butuh keintiman , sebagaimana kala Bimo-nya Dennis Adhiswara tersenyum pilu sambil dipeluk tiga sahabatnya. Tanpanya , Jomblo begitu hampa rasa , tidak peduli berapa banyak air mata tumpah maupun seberapa keras pukulan Deva Mahenra ke pipi Richard Kyle dikala perselisihan memanas. Pun keputusan mempertahankan konklusi bittersweet turut nihil dampak. Satu-satunya perubahan positif dari naskah garapan Adhitya Mulya dan Ifan Ismail yaitu menjadikan Olip bukan lagi creepy stalker , melainkan pria pemalu yang diakibatkan tekanan untuk selalu berhasil dari latarnya sebagai anak tentara. 
Sisi komedi tampil selaku penyelamat melalui sentuhan humor menghibur yang sesekali terjun ke ranah absurditas. Tapi pemfokusan terhadap komedi turut membawa imbas negatif , yakni karakter utama yang sebatas karikatur ketimbang manusia nyata. Contohnya Ge Pamungkas. Meski andal memainkan kekonyolan berlebihan , tapi kekonyolan itu pula yang mendorong Agus menjadi sosok komikal nan artificial belaka. Toh itu belum seberapa dibanding Richard Kyle yang bagaikan robot berperut six pack dengan pengucapan kalimat carut-marut. Deva tampil meyakinkan , sehingga patut disayangkan filmnya terlampau menyoroti Agus dan mengesampingkan Olip , padahal dialah tokoh paling kompleks.

Demi menyulut nostalgia , homage diselipkan , pun beberapa komponen film sebelumnya dipertahankan walau banyak di antaranya terkesan asal tempel. Misalnya penokohan Bimo , sebagai orang Papua yang lahir di Jogja. Mengapa tidak sekalian mengubahnya secara menyeluruh? Pilihan ini nihil substansi , tidak dipakai sebagai sumber humor , tidak pula disinggung lagi di kemudian waktu. Jomblo begitu berhasrat menjadi berbeda hingga kehilangan semangat aslinya , tetapi ingin juga mencuri perhatian penggemar lama tanpa memahami sisi yang mereka kagumi atau aspek mana yang perlu disertakan. Dalam usahanya merenggut atensi sampaumur milenial , Jomblo rupanya serupa sederet dari mereka yang mengalami krisis identitas.



Demikianlah Artikel Jomblo (2017)

Sekianlah artikel Jomblo (2017) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda kini membaca artikel Jomblo (2017) dengan alamat link

Comments

Popular posts from this blog

Download Film Satu Hari Nanti (2017) Full Movie - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Download Film Indonesia Terbaru 3 Dara 2 (2018) Full Movies - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Cars 3 (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com