Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Aubrey Plaza ,Artikel comedy ,Artikel Darren Aronofsky ,Artikel David Branson Smith ,Artikel Drama ,Artikel Eliza Hittman ,Artikel Elizabeth Olsen ,Artikel Harris Dickinson ,Artikel Horror ,Artikel Javier Bardem ,Artikel Jennifer Lawrence ,Artikel Lumayan ,Artikel Matt Spicer ,Artikel Review ,Artikel Sangat Bagus , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. sepakat , selamat membaca.
Judul : Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats
link : Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats
Anda kini membaca artikel Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats dengan alamat link
Judul : Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats
link : Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats
Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats
Kumpulan review pendek kali ini dibuka oleh Ingrid Goes West , satir mengenai kultur media umum khususnya Instagram yang mestinya memantapkan posisi Aubrey Plaza di jajaran aktris kelas satu Hollywood. Pada Festival Film Sundance 2017 , David Branson Smith dan Matt Spicer meraih Waldo Salt Screenwriting Award untuk naskah terbaik. Berikutnya Mother! , horor psikologis karya Darren Aronofsky yang membelah penonton menjadi dua kubu sekaligus menyulut kontroversi terkait alegori mengenai Alkitab. Terakhir ada Beach Rats , film bertema LGBT yang juga berjaya di Sundance , membawa Eliza Hittman meraih sutradara terbaik.
Ingrid Goes West (2017)
Budaya media umum bukan saja telah menjamur , juga beracun. Nampak pada tingkah Ingrid (Aubrey Plaza) yang menguntit selebgram asal L.A. , Taylor (Elizabeth Olsen) , menggandakan caranya berpakaian , makanan favorit , hingga alat mandi. Ingrid serupa dewasa kini yang rela menggandakan jati diri (baik literal maupun metaforikal) demi status dunia maya walau tanpa kehidupan dunia nyata. Arah alur praktis ditebak , tapi kekuatan utama film ini adalah observasi soal ragam perilaku destruktif pengguna media umum , dari usaha mendaki kasta , stalking , hingga obsesi pendorong kesediaan menggandakan sang idola. Topik ini spesifik tapi relevan bagi tiap situasi juga masa , bahkan sebelum Instagram merajalela. Selain setia bergaya canggung , Plaza menandakan kapasitas memainkan nada serius , ahli dalam memaparkan fluktuasi emosi. Berkatnya , pengamatan kita menghasilkan efek bermacam-macam , sesekali menaruh kasihan , kadang menertawakan , menikmati kala Ingrid kena batunya. Olsen sebaliknya , benderang , layaknya sosok ideal yang membuat orang ingin berteman bahkan menjadi dirinya. Titik rendah filmnya terletak di konklusi kurang tegas , ingin melanjutkan satir ke tataran lebih jauh atau mengusung pesan positif yang justru berujung justifikasi pada pihak yang disindir. (3.5/5)
Mother! (2017)
Melalui Mother! , Aronofosky tidak tertarik menyadarkan apalagi menginspirasi. Sepertinya fase itu sudah lama berlalu , menyisakan amarah yang menanti tercurah. Aronofosky murka pada banyak pihak , dari perilaku semau sendiri dan ketidakpedulian manusia yang melukai Mother Nature (Jennifer Lawrence) , pula representasi Tuhan dalam sosok Him (Javier Bardem) yang menurutnya tergila-gila akan puja-puji. Guna menuturkan interpretasi lepas dari Kitab Kejadian ini , pemakaian narasi konvensional memang sulit dilakukan , sehingga gaya metaforikal bersifat perlu , bukan pretensius. Meski bertebaran simbol , alur yang tetap mengikuti kaidah tiga babak (awal-tengah-akhir) memudahkan penonton menyusun keping teka-teki. Jangan khawatir daya tariknya hilang begitu tema besar terpecahkan , karena Mother! masih menyimpan setumpuk absurditas selaku pemanis detail dongeng , dengan klimaks gila sebagai penegas bahwa kemampuan Aronofsky mengganggu batin penonton , yang tampak sejak awal karirnya , belum luntur. Aronofsky sukses menjahit rapi hikayat Injil versinya ke dalam konflik suami-istri yang masing-masing sanggup berdiri sendiri. (4.5/5)
Beach Rats (2017)
Pencarian jati diri , konformitas , kekerabatan keluarga yang berjarak. Eliza Hittman menerapkan lika-liku dunia dewasa itu dalam lingkup LGBT. Frankie (Harris Dickinson) rutin menghabiskan malam di depan komputer menelusuri gay chat room untuk mencari pria lebih tua. Meski demikian , ia enggan mengaku gay , punya pacar wanita walau sulit terangsang kala bekerjasama seks , erat , menghisap ganja bersama tiga kawan yang menganggap kekerabatan sesama jenis menggelikan pula menjijikkan. Bahwa dewasa bersedia menyangkal identitas , menyesuaikan dengan "norma" supaya diakui , jadi sorotan utama Hittman. Dickinson memberi ketenangan namun dinamis dalam bertukar kalimat. Performa ini selaras dengan "topeng" Frankie yang menyimpan dilema sembari ingin tampak "normal" di lingkungan sosial. Hélène Louvart memakai kamera 16mm , merangkai kelembutan malam minim cahaya , menghasilkan gambar-gambar yang menyokong perasaan karakternya. Sementara Hittman membungkus adegan seks melalui kelembutan serupa , meniadakan kesan vulgar murahan. Solid , tapi Beach Rats takkan bertahan lama di ingatan final ketiadaan pembeda dibanding drama indie low budget kebanyakan (visual stylish , slow burning). Terlebih penokohannya kurang mendalam , sebatas melayani kiprah masing-masing ("the distant mother" , "the girlfriend" , "the asshole homophobic friends") tanpa kepribadian menarik. (3.5/5)
Demikianlah Artikel Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats
Sekianlah artikel Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats kali ini , mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. sepakat , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel Ingrid Goes West / Mother! / Beach Rats dengan alamat link




Comments
Post a Comment