Film Stars Dont Die In Liverpool (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
Film Stars Don't Die In Liverpool (2017) - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Film Stars Don't Die In Liverpool (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil isu didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Annette Bening ,Artikel Biography ,Artikel Cukup ,Artikel Jamie Bell ,Artikel Matt Greenhalgh ,Artikel Paul McGuigan ,Artikel Review , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.
Judul : Film Stars Don't Die In Liverpool (2017)
link : Film Stars Don't Die In Liverpool (2017)
Anda kini membaca artikel Film Stars Don't Die In Liverpool (2017) dengan alamat link
Judul : Film Stars Don't Die In Liverpool (2017)
link : Film Stars Don't Die In Liverpool (2017)
Film Stars Don't Die In Liverpool (2017)
Gloria Grahame meninggal dunia hampir 37 tahun lalu. Pertama , ia tidak tutup usia di Liverpool. Kedua , apakah ia benar-benar tiada? Saya bukan bicara soal teori konspirasi , melainkan legacy. Bahwa bintang layar lebar , khususnya dari masa keemasan Hollywood , akan selalu hidup berkat warisan yang ditinggalkan. Marilyn Monroe dan rok yang tertiup angin , James Dean dengan perangai cukup umur pemberontak , sementara di mata Peter Turner , Gloria adalah superstar yang singgah sejenak dalam kehidupan serta rumahnya yang sederhana , sebagaimana digambarkan penyesuaian memoir berjudul sama buatan Turner ini.
Gloria diperankan Annette Bening dalam replikasi bunyi meyakinkan yang urung jatuh menjadi imitasi murahan. Bening memberi nyawa bagi pergulatan batin sang aktris , yang sejak perfilman memasuki era bunyi , kehilangan popularitas. Dia coba bertahan sebagai pemain teater sembari tinggal di apartemen kecil , yang juga tempat kali pertama bertemu dengan Peter (Jamie Bell). Peter juga seorang pemain drama , meski sebatas di beberapa pertunjukan kecil. Dia tahu Gloria adalah aktris film. Namun bahwa Gloria pernah begitu dipuja bahkan menang Oscar urung Peter ketahui.
Toh kesudahannya ia tidak peduli. Dikaguminya pesona si aktris senior di layar lebar kala menyaksikan Naked Alibi (1954). Gloria turut berada di sana , tapi penonton lain tak sadar jikalau wanita anyir tanah di dingklik penonton dan Marianna yang menggoda saat menyanyikan Ace in the Hole merupakan orang yang sama. Untuk publik luas , Gloria Grahame infinit sebagai sosok wanita sensual. Itu testamen yang ia tinggalkan bagi kultur populer. Sedangkan Gloria di masa anyir tanah dengan penyakit menggerogoti terekam di memori Peter. Gloria di fase terlemah , namun paling jujur , apa adanya tanpa keglamoran , sekedar manusia yang tengah jatuh cinta.
Berpusat pada penyakit Gloria selain romansa beda generasi , sejatinya Film Stars Don't Die in Liverpool mengandung bekal dasar suatu disease porn , tapi sutradara Paul McGuigan menolak mengedepankan melodrama. Progresi alur tersusun atas pembicaraan bernuansa kontemplatif , mewakili melankoli Peter mengenang perjalanan cintanya bersama Gloria. Namun saat Matt Greenhalgh bisa menuliskan dialog-dialog kaya warna dalam skenario , sebutlah sewaktu Gloria mendeskripsikan persalinan sebagai "small aliens pop out from between your legs" , pengadeganan McGuigan terlampau cuek , hambar , miskin rasa di mayoritas bagian.
Pengecualian layak diberikan untuk dua momen: ending dan sebuah "twist" wacana relasi kedua tokoh utama. Shot terakhir yang dibumbui bunyi proyektor film selaku penegasan keabadian Gloria di layar perak tersaji indah. McGuigan , yang angkat nama lewat film-film menyerupai Lucky Number Slevin dan Push , memang gemar pamer gaya , tak terkecuali di drama "kecil" ini. Twist yang saya sebut pun berkaitan bersahabat dengan keengganan McGuigan memakai narasi linear. Dia ingin bergaya. Gerak alur maju-mundur antara masa kini dan masa kemudian yang hadir silih berganti pun dipilih.
Sayangnya , tanpa dibarengi kemampuan bercerita mumpuni , muncul simpulan fatal. Lompatan antar-fase terjalin kurang rapi. Alhasil , dinamika atau guratan emosi justru jarang mencuat , karena perhatian kita cenderung tercurah untuk menyusun keping-keping kisah yang tampil tak berurutan. Paul McGuigan mengajak otak penonton bekerja , saat Film Stars Don't Die in Liverpool semestinya memicu hati kita. Setidaknya Annette Bening selalu menyedot atensi laksana magnet berkekuatan tinggi.
Demikianlah Artikel Film Stars Don't Die In Liverpool (2017)
Sekianlah artikel Film Stars Don't Die In Liverpool (2017) kali ini , mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel Film Stars Don't Die In Liverpool (2017) dengan alamat link




Comments
Post a Comment