Death Note (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Death Note (2017) - Hallo sobat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Death Note (2017) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Adam Wingard ,Artikel Charles Parlapanides ,Artikel Fantasy ,Artikel Horror ,Artikel Jelek ,Artikel Jeremy Slater ,Artikel Lakeith Stanfield ,Artikel Margaret Qualley ,Artikel Nat Wolff ,Artikel Review ,Artikel Vlas Parlapanides ,Artikel Willem Dafoe , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. sepakat , selamat membaca.

Judul : Death Note (2017)
link : Death Note (2017)

Baca juga


Death Note (2017)

Adaptasi tidak wajib sepenuhnya setia dengan materi sumber. Perubahan selaku interpretasi personal atau penyesuaian terkait perbedaan kultur sah , bahkan perlu dilakukan. Itu menghasilkan keunikan pada penyesuaian , pun mungkin memunculkan sudut pandang baru. Syaratnya , perubahan mesti beralasan dan tidak mengkhianati esensi versi asli. Karena itu walau merupakan penggemar manga Death Note (setidaknya paruh pertama) , saya tak keberatan kala pembiasaan live action ini menjanjikan perbedaan , mirip pemindahan setting dari Jepang ke Amerika sehingga jajaran cast pun berganti ras (I don't believe in any race-washing). Masalahnya , sutradara Adam Wingard (Blair Witch , You're Next , The Guest) dan tim bagai menolak menghormati karya fenomenal Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata ini. 

Naskah buatan Charles Parlapanides , Vlas Parlapanides , dan Jeremy Slater coba mendekatkan kisahnya ke pangsa Amerika dengan menekankan ambiguitas budpekerti bertema teen angst daripada laga seni administrasi dua sisi yang merasa mewakili kebaikan. Aksi Light (Turner , bukan Yagami , diperankan Nat Wolff) menulis nama kriminal di Death Note pemberian shinigami Ryuk (Jason Liles di balik kostum , Willem Dafoe mengisi suara dan mo-cap untuk ekspresi) meski didasari kepercayaan akan memperbaiki dunia , cenderung didorong amarah sampaumur alih-alih kalkulasi mendalam. Light mirip banyak dewasa , ingin meluapkan kejengahan atas ketidakadian. Singkatnya , film ini ingin membuat karakternya lebih relatable.
Death Note buatan Wingard hadir sebagai produk sebuah negara yang tengah tidak berdaya dihantam ragam informasi ketidakadilan , di mana mimpi serta impian makin buram. Wajar bila suprerioritas Light Yagami dipandang kurang dekat. Penokohan Light Turner yang tindakannya dipicu hasrat manusiawi termasuk demi mencuri hati gadis populer bernama Mia Sutton (Margaret Qualley) sanggup diterima. Perjalanan di awal juga menjanjikan , saat Wingard menolak berbasa-basi , pribadi membawa Light pada serangkaian pembunuhan yang selain bergerak cepat , dikemas brutal ala seri Final Destination. This is an acceptable new interpretation and entertaining teen gory horror.....until it's not. 

Sah saja menimbulkan Light sampaumur biasa. Tapi ketimbang menyeimbangkan kecerdasan dengan keserampangan sampaumur supaya terkesan humanis , Light seutuhnya dibuat ndeso , dengan rencana tidak kalah bodoh. Jika menghendaki Light bertindak tanpa pikir panjang , apa keperluan menanamkan fakta bahwa ia pintar? Di luar third act , tanda-tanda kepintaran urung ditemukan. Kasus serupa menimpa L (Lakeith Stanfield) , detektif (yang konon) nomor satu tapi sulit mengontrol emosi saat dikalahkan lawan. Inkonsisten. Dan gejolak Teen angst bukan berarti selalu dikuasai emosi kemudian mengeliminasi intelegensi. Selain itu penokohan keduanya tidak sekedar mengubah , namun mencoreng esensi sumber materinya. Apapun modifikasinya , Light ialah representasi penegakan kebenaran di jalur ekstrim , sementara L di jalan lurus. Itulah pemicu ukiran keduanya , dan biar konflik tersebut meyakinkan , mereka harus cerdas. 
Bertambah parah tatkala Death Note kepayahan meringkas sumbernya yang dipenuhi intrik. Tampak dari kesan buru-buru menggulirkan dongeng , khususnya proses kelahiran sosok Kira yang dipuja. Naskahnya terjebak duduk perkara , antara melepaskan diri atau mengikuti sumber. Ryuk contohnya. Meniadakannya bakal memancing kontroversi , tapi para penulis juga tidak tahu harus berbuat apa , berakhir menghilangkan dinamika Light-Ryuk yang turut menyia-nyiakan suara mencekam Dafoe. Interaksi Light dan L juga dibabat habis , mencuatkan tanya seputar keperluan set-up pertarungan mereka bila ujungnya nihil laga seni administrasi (or at least not an interesting one). Tanpa dinamika menarik , selain gore dan gaya Wingard yang mengandalkan visual stylish serta musik elektronik , Death Note menyisakan kekosongan membosankan.

Teriakan menggelikan Nat Wolff saat Light pertama bertemu Ryuk menyulitkan untuk menyukai tokohnya. Bukan kesalahan Wolff sepenuhnya , lantaran memang keputusan Wingard menyelipkan komedi hitam pencipta inkonsistensi suasana. Sementara performa Stanfield mencerminkan kebingungan akut film ini soal menyikapi materi asli. Stanfeild memperagakan gestur ekstentrik ciri L , tetapi penokohannya secara menyeluruh tidak seunik sampul luarnya. Selain Dafoe , untungnya Margaret Qualley menarik disimak. Berkatnya , sosok Mia menyimpan selubung misteri , satu hal yang filmnya gagal berikan. Meminjam pernyataan yang tengah masyarakat kita gemar pakai , film ini ialah penistaan bagi warisan kejayaan Death Note.



Demikianlah Artikel Death Note (2017)

Sekianlah artikel Death Note (2017) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. sepakat , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda kini membaca artikel Death Note (2017) dengan alamat link

Comments

Popular posts from this blog

Download Film Satu Hari Nanti (2017) Full Movie - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Download Film Indonesia Terbaru 3 Dara 2 (2018) Full Movies - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com

Cars 3 (2017) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com