Colossal (2016) - Http://Akusayangkaubudak.Blogspot.Com
Colossal (2016) - Hallo sahabat http://akusayangkaubudak.blogspot.com , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Colossal (2016) , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil isu didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Anne Hathaway ,Artikel Bagus ,Artikel Bear McCreary ,Artikel comedy ,Artikel Dan Stevens ,Artikel Jason Sudeikis ,Artikel Nacho Vigalondo ,Artikel Review ,Artikel Science-Fiction , yang kami tulis ini sanggup anda pahami. oke , selamat membaca.
Judul : Colossal (2016)
link : Colossal (2016)
Anda kini membaca artikel Colossal (2016) dengan alamat link
Judul : Colossal (2016)
link : Colossal (2016)
Colossal (2016)
A heavy drunkard and a vicious bully. Both are colossal problems. Demikian kiranya gagasan di balik film terbaru Nacho Vigalondo (Timecrimes , Open Windows) yang mengkombinasikan rasa indie dramedy dengan kaiju flick ala Godzilla sampai Pacific Rim. Bahkan di salah satu titik sempat menyentuh ranah thriller. Colossal tak lain produk sinema modern yang menyikapi genre sebagai alat bantu menyusun pondasi daripada batasan. Hasil final karya genre-defying memang kerap penuh lubang termasuk Colossal tetapi kepuasan yang dihasilkan nyatanya sebanding.
Awalnya semua terlihat normal , menampilkan Gloria (Anne Hathaway) , wanita pengangguran yang diusir oleh sang kekasih , Tim (Dan Stevens) , dari apartemen mereka di New York balasan kecanduan alkohol. Gloria menetapkan pulang ke kampung halamannya , berharap sanggup menata ulang kehidupan. Pertemuan Gloria dengan sahabat masa kecilnya , Oscar (Jason Sudeikis) yang ramah pula sederhana (Tim pebisnis sukses , Oscar hanya pemilik bar) mencerminkan gelagat tontonan komedi-romantis saat protagonis menemukan cinta sejati yang jauh dari kemewahan hidup lamanya. Ditemani musik country , Colossal bak sajian low-key indie. Sampai monster raksasa menyerang Korea Selatan.
Menulis naskahnya sendiri , Vigalondo piawai mempermainkan ekspektasi , entah berkat pembauran genre atau pengembangan huruf dan kisah ke arah mengejutkan. Pemahaman Vigalondo akan template tiap genre membuat filmnya sanggup bergulir menghindari tiap-tiap keklisean , semisal ditiadakannya fase skeptisme teman-teman Gloria mendengar kisah gilanya mengenai terhubung dengan monster. Colossal langsung memasuki mode bersenang-senang semaunya sebagaimana sikap karakternya di bawah pengaruh alkohol. Bicara soal kesenangan , khususnya di paruh pertama , Vigalando pamer kebolehan menyusun komedi.
Keberhasilan humor Colossal didorong keengganan usaha hiperbola tampil konyol , setidaknya bukan melalui jalur umum. It's all about quirky and weird comedy. Saat Gloria kali pertama menyadari koneksi dirinya dengan monster , misal. Musik garapan Bear McCreary terdengar bombastis pula intens alih-alih jenaka , yang malah menguatkan kelucuan dari kemustahilan situasi. Tentu kecocokan Anne Hathaway bertingkah quirky melalui raut wajah dan gerak tubuh canggung berperan besar memuluskan laju komedi. Sedangkan Jason Sudeikis kapabel menjalankan dua sisi kontradiktif tokohnya.
Sama kontradiktifnya adalah progresi tone yang mencapai babak pertengahan , melompat cepat dari drama-komedi ringan menuju drama serius , pun (seperti telah disebutkan) salah satu adegan agak menyerempet bangunan intensitas thriller. Sangat berlawanan suasana , namun sesuai dengan perkembangan kisah juga karakter , yang justru berpotensi kehilangan bobot jikalau dipaksakan konyol , mengingat Colossal mengangkat isu seputar penindasan , baik dalam konteks umum maupun antar-gender. Gloria , meski seorang pemabuk kurang bertanggung jawab , seiring berjalannya waktu menegaskan posisi sebagai wanita yang berusaha membebaskan diri dari kekangan para laki-laki , berujung memudahkan untuk mendukung prosesnya.
Terkait aspek monster (dan robot) raksasa , Colossal urung , bahkan tidak coba menyampaikan penjelasan logis. Karena memang tidak perlu. Satu-satunya lubang kecerdikan yang layak dipermasalahkan adalah kecerdikan atau rules dalam filmnya sendiri (tanpa mengacu ke dunia nyata). Aturan mengenai "kapan" dan "bagaimana" terlalu dibiarkan bebas oleh Vigalondo. Padahal aturan demikian penting guna menjaga penonton tetap terikat dengan kisah , tak peduli seabsurd apapun. The deeper Colossal dig its lore about the giant monster , the messier , untungnya di saat bersamaan , studi dramatik yang ditawarkan juga makin kokoh.
Demikianlah Artikel Colossal (2016)
Sekianlah artikel Colossal (2016) kali ini , mudah-mudahan sanggup memberi manfaat untuk anda semua. oke , hingga jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda kini membaca artikel Colossal (2016) dengan alamat link




Comments
Post a Comment